Ketam itu masih galak
mengajar anaknya berjalan betul
biar dia bergelumang tahi
dan jalannya tetap sama macam dulu
agaknya benar-benarlah dia
dari keturunan Melayu mudah lupa.
Telah dirobek ketuanan
dan dicaturnya undang-undang
menjadi jerangkap samar
lalu hatinya gundah gulana
dikejar bayang-bayang sendiri
sungguh malang nasibnya
tahtanya diwarisi orang yang salah
lemah dan tak tahu memerintah
tunduk patuh pada si pemeras ugut;katanya
anaknya jadi kaduk naik junjung
lupa diri lupa daratan
telah jadi kacang lupakan kulit
kemana dia mahu berlindung diri
harapkan pagar;pagar makan padi.
Anaknya terasuh dengan sains dan matematik
mencongak segala untung dan rugi
mana ada ruang untuk berbudi dan berbahasa
asasnya ketam mesti jalannya merusuk
peduli apa pada bicara orang tua-tua
sedikit ingat;tapi banyak lupanya
kalau tak masakan berpatah arang berkerat rotan
anak sendiri dianggapnya musuh
dan langsung tak ingat apa-apa
dialah punca segalanya.
Ketam itu masih galak
mengajar anaknya berjalan betul
pada hal dialah yang memakaikan mahkota
di kepala orang yang tak betul
agaknya benar-benarlah dia sudak nyanyok.
Yajuk
Bukit Jering
20052008
• SAJAK > 2008 > Ketam Itu Masih Galak disumbangkan
pada Khamis, 22 Mei 2008 11:39:24 AM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 22 Mei
2008 11:39:24 AM oleh yajuk
Sunday, 26 February 2012
35.Kudoakan Kau Bahagia
Hening bening malam ini
mencurahkan bahagia
pada hangat mentari
menakung rindu
pada titis-titis hujan
dan membuai damai
pada sejuk beku salju.
Inginku titipkan doa
semuga kau bahagia
di dakapan rindu kekasih
dan hayatmu
dilingkari rahmat Tuhan.
Suratan telah menentukan
sampai di sini ikatan cinta kita
biarkan ribut tak merungkai setiamu
dan hangat mentari
tak mengering daun-daun iman
di sana ada bahagia menanti
melangsai pengorbanan diri.
Biarkan berlalu rinduku
bertakung di empangan tenang damai
sekeping hati berpatri reda
dan berkelopak syukur
pada suratan Ilahi
tanpa berdetik resah
dan kelu menitiskan buih-buih nista
pada mengharap rahmat-Mu jua.
Yajuk
Bukit Jering
10052008
• SAJAK > 2008 > Ku Doakan Kau Bahagia disumbangkan
pada Ahad, 18 Mei 2008 12:04:09 AM • Kali terakhir diubah pada Ahad, 18 Mei
2008 12:04:09 AM oleh yajuk
mencurahkan bahagia
pada hangat mentari
menakung rindu
pada titis-titis hujan
dan membuai damai
pada sejuk beku salju.
Inginku titipkan doa
semuga kau bahagia
di dakapan rindu kekasih
dan hayatmu
dilingkari rahmat Tuhan.
Suratan telah menentukan
sampai di sini ikatan cinta kita
biarkan ribut tak merungkai setiamu
dan hangat mentari
tak mengering daun-daun iman
di sana ada bahagia menanti
melangsai pengorbanan diri.
Biarkan berlalu rinduku
bertakung di empangan tenang damai
sekeping hati berpatri reda
dan berkelopak syukur
pada suratan Ilahi
tanpa berdetik resah
dan kelu menitiskan buih-buih nista
pada mengharap rahmat-Mu jua.
Yajuk
Bukit Jering
10052008
• SAJAK > 2008 > Ku Doakan Kau Bahagia disumbangkan
pada Ahad, 18 Mei 2008 12:04:09 AM • Kali terakhir diubah pada Ahad, 18 Mei
2008 12:04:09 AM oleh yajuk
34.Meniti Ombak Mendaki Gelombang
Ada orang meraung melolong-lolong
melihat kita berlari meniti ombak
ada orang menggeletar menggigil-gigil
melihat kita mendaki gelombang
sedang kita tak nampak apa-apa
tak merasa apa-apa
kerna kitalah ombak
kitalah gelombang.
Ada ombak menerjah merobek pantai
dan iman adakah mencair?
bagai salji menebal di dingin malam
dan menipis dipanggang mentari tengahari.
Ada gelombang menghempas ubun-ubun kepala
taqwa meletup bagai gunung karakatao
memuntahkan lumpur merah
dan layang-layang terbang tanpa talinya.
Ombak dan gelombang itu
juga adalah laut
seperti jiwa yang berbunga bahagia
dan hati menderita pedih disiat sembilu
adalah hati yang masih bermimpi
lalu ada derita mengiringi
bila mimpi disambar petir.
Biar kita meniti ombak
biar kita mendaki gelombang
kerna ia juga adalah kita yang terasing
dan akan menghilang bisa perihnya
bila kita mensebatikan diri
menjadi laut yang tak mengerti
adanya ombak adanya gelombang.
Yajuk
Bukit Jering
14052007
• SAJAK > 2008 > Meniti Ombak Mendaki Gelombang
disumbangkan pada Jumaat, 16 Mei 2008 9:28:48 AM • Kali terakhir diubah pada
Jumaat, 16 Mei 2008 9:28:48 AM oleh yajuk
melihat kita berlari meniti ombak
ada orang menggeletar menggigil-gigil
melihat kita mendaki gelombang
sedang kita tak nampak apa-apa
tak merasa apa-apa
kerna kitalah ombak
kitalah gelombang.
Ada ombak menerjah merobek pantai
dan iman adakah mencair?
bagai salji menebal di dingin malam
dan menipis dipanggang mentari tengahari.
Ada gelombang menghempas ubun-ubun kepala
taqwa meletup bagai gunung karakatao
memuntahkan lumpur merah
dan layang-layang terbang tanpa talinya.
Ombak dan gelombang itu
juga adalah laut
seperti jiwa yang berbunga bahagia
dan hati menderita pedih disiat sembilu
adalah hati yang masih bermimpi
lalu ada derita mengiringi
bila mimpi disambar petir.
Biar kita meniti ombak
biar kita mendaki gelombang
kerna ia juga adalah kita yang terasing
dan akan menghilang bisa perihnya
bila kita mensebatikan diri
menjadi laut yang tak mengerti
adanya ombak adanya gelombang.
Yajuk
Bukit Jering
14052007
• SAJAK > 2008 > Meniti Ombak Mendaki Gelombang
disumbangkan pada Jumaat, 16 Mei 2008 9:28:48 AM • Kali terakhir diubah pada
Jumaat, 16 Mei 2008 9:28:48 AM oleh yajuk
33.Anak-Anakku;Ini Saja Yang Dapat Abah Tinggalkan
Anak-anakku;ini saja yang dapat abah tinggalkan
jejak-jejak perjalanan
jika ada yang kau suka ambillah
tapi jika ada yang tak kau suka
renung-renungkanlah
sebelum kau buang bersepah merata.
Tidak akan ada emas permata
tidak juga wang berjuta-juta
malah tanah sekangkang kera
pengalas kaki dipijak
seperti sekujur jasad yang masih bernyawa
dipinjamkan buat seketika
dan tidak akan abah cari harta kekayaan
untuk ditinggalkan;menjadi alasan suatu permusuhan.
Andainya abah pergi dulu
sebelum kalian mengerti
janganlah takut dan berlari ke kaki langit
meninggalkan diri
dapatkan kembali fitrah suci seketul hati
biar kesuciannya memayungi akal dan budi
di situlah rumahnya
janganlah gelapkan hati
dengan debu-debu beterbangan.
Anak-anakku;ini saja yang dapat abah tinggalkan
jejak-jejak perjalanan
mencari diri yang hakiki
dan menebus kembali janji-janji yang terpatri
membawa amanah yang tak terpikul oleh isi langit dan bumi
menjadi khalifah yang reda dan diredai.
Yajuk
Bukit Jering
09052008
• SAJAK > 2008 > Anak-Anakku;Ini Saja Yang Dapat Abah
Tinggalkan disumbangkan pada Rabu, 14 Mei 2008 1:49:40 PM • Kali terakhir
diubah pada Rabu, 14 Mei 2008 1:49:40 PM oleh yajuk
jejak-jejak perjalanan
jika ada yang kau suka ambillah
tapi jika ada yang tak kau suka
renung-renungkanlah
sebelum kau buang bersepah merata.
Tidak akan ada emas permata
tidak juga wang berjuta-juta
malah tanah sekangkang kera
pengalas kaki dipijak
seperti sekujur jasad yang masih bernyawa
dipinjamkan buat seketika
dan tidak akan abah cari harta kekayaan
untuk ditinggalkan;menjadi alasan suatu permusuhan.
Andainya abah pergi dulu
sebelum kalian mengerti
janganlah takut dan berlari ke kaki langit
meninggalkan diri
dapatkan kembali fitrah suci seketul hati
biar kesuciannya memayungi akal dan budi
di situlah rumahnya
janganlah gelapkan hati
dengan debu-debu beterbangan.
Anak-anakku;ini saja yang dapat abah tinggalkan
jejak-jejak perjalanan
mencari diri yang hakiki
dan menebus kembali janji-janji yang terpatri
membawa amanah yang tak terpikul oleh isi langit dan bumi
menjadi khalifah yang reda dan diredai.
Yajuk
Bukit Jering
09052008
• SAJAK > 2008 > Anak-Anakku;Ini Saja Yang Dapat Abah
Tinggalkan disumbangkan pada Rabu, 14 Mei 2008 1:49:40 PM • Kali terakhir
diubah pada Rabu, 14 Mei 2008 1:49:40 PM oleh yajuk
32.Bila Ombak Dan Gelombang Telah Reda
Meski ada ribut
ada taufan
ku selami jua laut bergelora.
Biar mutiara tak ku temui
kedapatan tiram di celah batu-batu karang
kukutip kupungut
menjadi karangan.
Bila ombak dan gelombang telah reda
laut tenang menyusuri pantai
aku lena diulit angin senja
reda dan syukur menanti
Kau jemput aku pulang.
yajuk
Bukit Jering
08052008
• SAJAK > 2008 > Bila Ombak Dan Gelombang Telah Reda
disumbangkan pada Isnin, 12 Mei 2008 4:57:22 PM • Kali terakhir diubah pada
Isnin, 12 Mei 2008 4:57:22 PM oleh yajuk
ada taufan
ku selami jua laut bergelora.
Biar mutiara tak ku temui
kedapatan tiram di celah batu-batu karang
kukutip kupungut
menjadi karangan.
Bila ombak dan gelombang telah reda
laut tenang menyusuri pantai
aku lena diulit angin senja
reda dan syukur menanti
Kau jemput aku pulang.
yajuk
Bukit Jering
08052008
• SAJAK > 2008 > Bila Ombak Dan Gelombang Telah Reda
disumbangkan pada Isnin, 12 Mei 2008 4:57:22 PM • Kali terakhir diubah pada
Isnin, 12 Mei 2008 4:57:22 PM oleh yajuk
31.Di Langit Petang Ini
Di langit petang ini
mentari condong menebar sinar sepi memanjang
menangisi langit kelam membungkam pada petir
yang sering membakar pohon-pohon hijau
di lembah kerdil tanpa daun-daun nikmat
menaungi panas tajam kerikil
yang membelah retak hati
tanpa ada rasa simpati yang pasti
merentasi lurah-lurah dalam melaut resah
melewati destinasi yang ternyata
cuma pintalan-pintalan patamorgana.
Telah terluruh daun-daun iman
yang bergayutan pada dahan-dahan rapuh
mereput dan memburuk dihisap dedalu merimbun
berserakan bertaburanlah menjadi debunga cinta
bersalut intan berlian
bertatah emas permata menggamit cinta ulama
berhalusinasi mencair lebur segala kebanggaan
membawa siddik amanah tabligh dan pathanah
menjadi timbunan kitab-kitab buruk
berjualan di pasar lelong dan rentung
dalam kepulan asap hitam kemungkaran
membawa terbang cebisan-cebisan kemuliaan
sebagai Ulama warisatul anbia.
Hari-hari tertampal dan menampal kemuliaan
menjadi pendidik anak bangsa dan ummah
dengan kemuliaan keturunan Adam dan Hawa
membawa fitrah keagongan dan kebesaran Muhammad
tapi entah menjadi entahkan tidak
padi yang ditanam telah menjadi lalang
terbang berbondong berduyun-duyun
terperosok kedalam penjara dan pusat serenti
bagai rumput di tepi jalan;hidup segan mati tak mahu.
Kebanggaan apa yang berbaki pada gelar seorang manusia
menjadi khalifah di bumi Allah bila kebenaran diinjak-injak
dan kebathilan dijunjung menjadi mahkota kebesaran
memayungi kezaliman dan kebejatan diri
langsung tak peduli jika sumpah pada tuhan diingkari
meski tanpa ragu kita patrikan janji dan teguhkan tekad
mengucapkan “bahkan aku naik saksi kaulah Tuhanku”.
Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung
taklah sebesar makna pengabdian diri pada Tuhan
sehingga kita melupakan hakikat diri kita juga khalifah yang
bebas merdeka dalam pengabdian abadi
jangan jadi jauhari yang tak mengenal ma’nikam
lupa diri lupa Tuhan kerana seketul tulang
menuntut dunia semata menjadikan kita seekor anjing
hina dan menjijikkan dalam kesetiaan membabi buta.
Kita mengindahkan khabar dari rupa
pabila kita inginkan sesuatu yang bukan milik kita
lalu kita campurkan pula racun ke dalam makanan bersih halal
untuk dihidangkan kepada anak bangsa
jadinya marahkan nyamuk kelambu dibakar
tak berbunga syukur dan redha
dalam mimpi dan ilusi yang tak pernah padam
membungkam dengan amarah dan dendam
seolah-olah tiada takdir dan kuasa tuhan.
Di langit petang ini
aku terus mengharap selepas malam kelam
akan ada mentari terbit lagi di pagi hari.
Yajuk
Bukit Jering
07052008
• SAJAK > 2008 > Di Langit Petang disumbangkan pada
Sabtu, 10 Mei 2008 8:23:14 AM • Kali terakhir diubah pada Sabtu, 10 Mei 2008
8:23:14 AM oleh yajuk
mentari condong menebar sinar sepi memanjang
menangisi langit kelam membungkam pada petir
yang sering membakar pohon-pohon hijau
di lembah kerdil tanpa daun-daun nikmat
menaungi panas tajam kerikil
yang membelah retak hati
tanpa ada rasa simpati yang pasti
merentasi lurah-lurah dalam melaut resah
melewati destinasi yang ternyata
cuma pintalan-pintalan patamorgana.
Telah terluruh daun-daun iman
yang bergayutan pada dahan-dahan rapuh
mereput dan memburuk dihisap dedalu merimbun
berserakan bertaburanlah menjadi debunga cinta
bersalut intan berlian
bertatah emas permata menggamit cinta ulama
berhalusinasi mencair lebur segala kebanggaan
membawa siddik amanah tabligh dan pathanah
menjadi timbunan kitab-kitab buruk
berjualan di pasar lelong dan rentung
dalam kepulan asap hitam kemungkaran
membawa terbang cebisan-cebisan kemuliaan
sebagai Ulama warisatul anbia.
Hari-hari tertampal dan menampal kemuliaan
menjadi pendidik anak bangsa dan ummah
dengan kemuliaan keturunan Adam dan Hawa
membawa fitrah keagongan dan kebesaran Muhammad
tapi entah menjadi entahkan tidak
padi yang ditanam telah menjadi lalang
terbang berbondong berduyun-duyun
terperosok kedalam penjara dan pusat serenti
bagai rumput di tepi jalan;hidup segan mati tak mahu.
Kebanggaan apa yang berbaki pada gelar seorang manusia
menjadi khalifah di bumi Allah bila kebenaran diinjak-injak
dan kebathilan dijunjung menjadi mahkota kebesaran
memayungi kezaliman dan kebejatan diri
langsung tak peduli jika sumpah pada tuhan diingkari
meski tanpa ragu kita patrikan janji dan teguhkan tekad
mengucapkan “bahkan aku naik saksi kaulah Tuhanku”.
Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung
taklah sebesar makna pengabdian diri pada Tuhan
sehingga kita melupakan hakikat diri kita juga khalifah yang
bebas merdeka dalam pengabdian abadi
jangan jadi jauhari yang tak mengenal ma’nikam
lupa diri lupa Tuhan kerana seketul tulang
menuntut dunia semata menjadikan kita seekor anjing
hina dan menjijikkan dalam kesetiaan membabi buta.
Kita mengindahkan khabar dari rupa
pabila kita inginkan sesuatu yang bukan milik kita
lalu kita campurkan pula racun ke dalam makanan bersih halal
untuk dihidangkan kepada anak bangsa
jadinya marahkan nyamuk kelambu dibakar
tak berbunga syukur dan redha
dalam mimpi dan ilusi yang tak pernah padam
membungkam dengan amarah dan dendam
seolah-olah tiada takdir dan kuasa tuhan.
Di langit petang ini
aku terus mengharap selepas malam kelam
akan ada mentari terbit lagi di pagi hari.
Yajuk
Bukit Jering
07052008
• SAJAK > 2008 > Di Langit Petang disumbangkan pada
Sabtu, 10 Mei 2008 8:23:14 AM • Kali terakhir diubah pada Sabtu, 10 Mei 2008
8:23:14 AM oleh yajuk
Saturday, 25 February 2012
30.Telah Terungkai Ikatan
Telah terungkai ikatan
kasih yang dulu tersimpul mati
siang malam aku kau rindu
damai dan sepurnalah hayatmu
bila aku sentiasa bersamamu.
Belum pun kering titis-titis embun
masih basah jejak di denau dan lurah
masih berdengung hilaitawa di gegendang telinga
kau campakkan warna merah pada canvas putih hati ini
kau biarkan luka dan calar bersalut pahit hempedu
katamu kau tak perlukan aku lagi
di sana ada mahligai sedang menanti.
Bagai kaca terhempas ke batu
beterbanganlah debu kasih ditiup angin
luruh gugurlah daun-daun rindu
bertaburan memenuhi taman hati
langit cerah bertompok awan hitam
menitiskan hujan
malam gelap tanpa bintang
aku menumpang cahaya kelip-kelip beterbangan.
Biarkan berlalu nyanyian rindu
ku dodoikan jua pada hati
cinta bukan segalanya
kerana Hawa Adam tercampak ke bumi
kerana Zulaikha Yusoff terpenjara
biarkan rindu mati di sini
aku mesti tegar mengharung laut sepi.
Yajuk
Bukit Jering
04052008
• SAJAK > 2008 > Telah Terungkai Ikatan disumbangkan
pada Khamis, 8 Mei 2008 8:40:48 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 8 Mei
2008 8:40:48 PM oleh yajuk
kasih yang dulu tersimpul mati
siang malam aku kau rindu
damai dan sepurnalah hayatmu
bila aku sentiasa bersamamu.
Belum pun kering titis-titis embun
masih basah jejak di denau dan lurah
masih berdengung hilaitawa di gegendang telinga
kau campakkan warna merah pada canvas putih hati ini
kau biarkan luka dan calar bersalut pahit hempedu
katamu kau tak perlukan aku lagi
di sana ada mahligai sedang menanti.
Bagai kaca terhempas ke batu
beterbanganlah debu kasih ditiup angin
luruh gugurlah daun-daun rindu
bertaburan memenuhi taman hati
langit cerah bertompok awan hitam
menitiskan hujan
malam gelap tanpa bintang
aku menumpang cahaya kelip-kelip beterbangan.
Biarkan berlalu nyanyian rindu
ku dodoikan jua pada hati
cinta bukan segalanya
kerana Hawa Adam tercampak ke bumi
kerana Zulaikha Yusoff terpenjara
biarkan rindu mati di sini
aku mesti tegar mengharung laut sepi.
Yajuk
Bukit Jering
04052008
• SAJAK > 2008 > Telah Terungkai Ikatan disumbangkan
pada Khamis, 8 Mei 2008 8:40:48 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 8 Mei
2008 8:40:48 PM oleh yajuk
29.Semalam Kau Berbicara
Semalam kau berbicara
tentang lampu
ada cahaya bersamanya
menerangi gelap malam.
Di sana ada neraca insani
menggamit aku tersendu
dalam meniti titian yang satu
mengenal diri dan makrifatullah.
Ada fitrah hakiki insani
tersembunyi dalam diri
suci bersih seketul hati adalah rumah-Nya
ada cahaya dalam cahaya
ada rahsia dalam rahsia
selamilah laut luas sekeping hati
ketuklah pintu dan bertamulah ke rumah-Nya
perhalusi rahsia diri
untuk mengetahui rahsia-Nya.
Al insanu sirri wa ana sirruhu
Qalbul mukminin baitullah
tak tertanggung bukit bukau
gunung-ganang pun tak menyanggupi
membawa amanat-Ku melainkan manusia
maka tuntutlah sebenar-benar diri
jangan tinggal diri
kenal diri kenallah Allah.
Ada mata yang tak nampak apa-apa
ada telinga yang tak menangkap suara
ada mulut lidah yang keras dan masam
tak terucap zikir dan tahmid
maka tinggallah hati dalam kegelapan
teraba-raba dalam terang mentari
apa lagi yang tinggal;istimewanya diri
bisakah kita kembali?.
Semalam kau berbicara
tentang lampu yang terbenam diperut bumi
bagai kunang-kunang berbalam cahayanya
dalam kenangan zaman silam
di dadanya manusia berdengkur tanpa seurat benang
sekadar menanti mentari pagi terbit di ufuk barat.
Yajuk
Bukit Jering
05052008
(Sajak asal /Kadok 13hb.nov.1982)
• SAJAK > 2008 > Semalam Kau Berbicara disumbangkan
pada Rabu, 7 Mei 2008 12:04:15 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 7 Mei 2008
12:04:15 PM oleh yajuk
tentang lampu
ada cahaya bersamanya
menerangi gelap malam.
Di sana ada neraca insani
menggamit aku tersendu
dalam meniti titian yang satu
mengenal diri dan makrifatullah.
Ada fitrah hakiki insani
tersembunyi dalam diri
suci bersih seketul hati adalah rumah-Nya
ada cahaya dalam cahaya
ada rahsia dalam rahsia
selamilah laut luas sekeping hati
ketuklah pintu dan bertamulah ke rumah-Nya
perhalusi rahsia diri
untuk mengetahui rahsia-Nya.
Al insanu sirri wa ana sirruhu
Qalbul mukminin baitullah
tak tertanggung bukit bukau
gunung-ganang pun tak menyanggupi
membawa amanat-Ku melainkan manusia
maka tuntutlah sebenar-benar diri
jangan tinggal diri
kenal diri kenallah Allah.
Ada mata yang tak nampak apa-apa
ada telinga yang tak menangkap suara
ada mulut lidah yang keras dan masam
tak terucap zikir dan tahmid
maka tinggallah hati dalam kegelapan
teraba-raba dalam terang mentari
apa lagi yang tinggal;istimewanya diri
bisakah kita kembali?.
Semalam kau berbicara
tentang lampu yang terbenam diperut bumi
bagai kunang-kunang berbalam cahayanya
dalam kenangan zaman silam
di dadanya manusia berdengkur tanpa seurat benang
sekadar menanti mentari pagi terbit di ufuk barat.
Yajuk
Bukit Jering
05052008
(Sajak asal /Kadok 13hb.nov.1982)
• SAJAK > 2008 > Semalam Kau Berbicara disumbangkan
pada Rabu, 7 Mei 2008 12:04:15 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 7 Mei 2008
12:04:15 PM oleh yajuk
28.Antara Patung Dan Berhala
Telah dipecahkan segala patung
bersihkah syirik dari hati
tiada patung menghalang kiblat
tidakkah berhala berbuak bicara
mengungkap kata dan bergentayangan
menganyam mimpi.
Sedang qiam ada senyuman menggamit perasaan
sedang roko’ ada lembu kepanasan di bendang
sedang sujud ada sup ekor terhidang di dapur
sedang tahiyyat ada akademi fantasia di tv
apa lagi yang tinggal dalam shalat?.
Antara patung dan berhala
patung telah hancur menjadi debu
tidakkah kita mencipta berhala
dan membajai syirik
bersama mimpi dan ilusi
yang menguasai hati tanpa kita sedari.
Yajuk
Bukit jering
29042008
• SAJAK > 2008 > Antara Patung Dan Berhala
disumbangkan pada Jumaat, 2 Mei 2008 9:54:46 PM • Kali terakhir diubah pada
Jumaat, 2 Mei 2008 9:54:46 PM oleh yajuk
bersihkah syirik dari hati
tiada patung menghalang kiblat
tidakkah berhala berbuak bicara
mengungkap kata dan bergentayangan
menganyam mimpi.
Sedang qiam ada senyuman menggamit perasaan
sedang roko’ ada lembu kepanasan di bendang
sedang sujud ada sup ekor terhidang di dapur
sedang tahiyyat ada akademi fantasia di tv
apa lagi yang tinggal dalam shalat?.
Antara patung dan berhala
patung telah hancur menjadi debu
tidakkah kita mencipta berhala
dan membajai syirik
bersama mimpi dan ilusi
yang menguasai hati tanpa kita sedari.
Yajuk
Bukit jering
29042008
• SAJAK > 2008 > Antara Patung Dan Berhala
disumbangkan pada Jumaat, 2 Mei 2008 9:54:46 PM • Kali terakhir diubah pada
Jumaat, 2 Mei 2008 9:54:46 PM oleh yajuk
27.Katanya Tak Mahu Dia Terpenjara
Terpaksalah ku lepaskan jua
dia terbang mengapai bintang
biar langit berawan menitiskan hujan
meratapi kehilangannya
biarlah dia pergi terbang semahunya
katanya tak mahu dia terpenjara.
Salahkah aku menitipkan rindu
mahu melihat senyummu di balik pintu
saban waktu aku pulang
atau salahkah aku bila menanyakan
kemana kau pergi malam ini
sedang aku bermimpi
baru kau ketuk pintu mahu mandi.
Sayangku;pergilah sesuka hatimu
jelajahilah pulau-pulau pantasimu
di laut nafsu
biar hatimu puas
pergilah sampai hujung dunia
di sini aku setia bersama bayang-bayangmu
pulanglah bila langkahmu terkunci
hatiku sentiasa terbuka untukmu.
Yajuk
Bukit Jering
21042008
• SAJAK > 2008
> Katanya Tak Mahu Dia Terpenjara disumbangkan pada Selasa, 29 April 2008
8:21:32 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 29 April 2008 8:21:32 AM oleh
yajuk
• SAJAK > 2008 > Katanya Tak Mahu Dia Terpenjara
disumbangkan pada Selasa, 29 April 2008 8:21:32 AM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 29 April 2008 5:20:56 PM oleh drirwan
dia terbang mengapai bintang
biar langit berawan menitiskan hujan
meratapi kehilangannya
biarlah dia pergi terbang semahunya
katanya tak mahu dia terpenjara.
Salahkah aku menitipkan rindu
mahu melihat senyummu di balik pintu
saban waktu aku pulang
atau salahkah aku bila menanyakan
kemana kau pergi malam ini
sedang aku bermimpi
baru kau ketuk pintu mahu mandi.
Sayangku;pergilah sesuka hatimu
jelajahilah pulau-pulau pantasimu
di laut nafsu
biar hatimu puas
pergilah sampai hujung dunia
di sini aku setia bersama bayang-bayangmu
pulanglah bila langkahmu terkunci
hatiku sentiasa terbuka untukmu.
Yajuk
Bukit Jering
21042008
• SAJAK > 2008
> Katanya Tak Mahu Dia Terpenjara disumbangkan pada Selasa, 29 April 2008
8:21:32 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 29 April 2008 8:21:32 AM oleh
yajuk
• SAJAK > 2008 > Katanya Tak Mahu Dia Terpenjara
disumbangkan pada Selasa, 29 April 2008 8:21:32 AM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 29 April 2008 5:20:56 PM oleh drirwan
26.Sebuah Gobok Sebidang Tanah
Ada anai-anai bersarang
menghakis tiang
telah buruk mereput
dan gobok semakin condong
menunggu roboh.
Tanah semakin sempit
kerana tebing telah runtuh
dan aur hanyut dibawa arus.
Tanah sekangkang kera
sana sini harimau singa mengaum
mencakar kuku menggilap taring
lembu kambinglah mangsanya.
Ada musim luruh memanjang
tanah menjadi taman kumbahan
ada sampah menimbun
biawak ular bersarang
padi yang ditanam
lalang yang tumbuh.
Sebuah gobok buruk
sekeping tanah pusaka
adalah medan berebut kuasa
pemiliknya;yang terkuat antara raja-raja rimba.
Yajuk
Bukit Jering
23042008
• SAJAK > 2008 > Sebuah Gobok Sebidang Tanah
disumbangkan pada Ahad, 27 April 2008 9:02:45 PM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 27 April 2008 9:02:45 PM oleh yajuk
menghakis tiang
telah buruk mereput
dan gobok semakin condong
menunggu roboh.
Tanah semakin sempit
kerana tebing telah runtuh
dan aur hanyut dibawa arus.
Tanah sekangkang kera
sana sini harimau singa mengaum
mencakar kuku menggilap taring
lembu kambinglah mangsanya.
Ada musim luruh memanjang
tanah menjadi taman kumbahan
ada sampah menimbun
biawak ular bersarang
padi yang ditanam
lalang yang tumbuh.
Sebuah gobok buruk
sekeping tanah pusaka
adalah medan berebut kuasa
pemiliknya;yang terkuat antara raja-raja rimba.
Yajuk
Bukit Jering
23042008
• SAJAK > 2008 > Sebuah Gobok Sebidang Tanah
disumbangkan pada Ahad, 27 April 2008 9:02:45 PM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 27 April 2008 9:02:45 PM oleh yajuk
25.Memori Senja
Telah kering dan layu
dibakar mentari
telah kusam dan masam
terendam kumbahan
tidak lagi menambah seri
meski di laman sendiri.
Hendakku bertongkat
pada anak dan menantu
tapi langit telah retak seribu
dan bumi berkerapah dengan duri
ada api dalam sekam
api tak kelihatan
asap berkepul merata-rata.
Masih ku ingin menjaring mimpi
masih ku ingin menjaja janji
biar mereka menangguk di air keruh
biar mereka menjadi musang berbulu ayam
biar mereka menyokong membawa rebah
biar mereka menjadi pagar pagar makan padi
aku pantang dicabar
biar menang menjadi arang
alah menjadi abu
aku tak mungkin menyerah kalah.
Ada tangan-tangan kotor melempar batu
telah keruhlah air di muara
kerana tangan yang mencincang tak mahu memikul
terpalitlah aku dengan getah nangka.
Telah tersilap aku menghitung
telah tersasar segala impian
tak tercari Al ghazali dan Al shafei
jadilah aku lebai malang
mewarisi segala kebobrokan
mewarisi segala kemusnahan
ada jerangkap samar merata-rata
telah menjadi momokan segala impian
mahu menjadi insan cemerlang gemilang dan terbilang.
Yajuk
Bukit Jering
23hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Memori Senja disumbangkan pada
Khamis, 24 April 2008 9:16:33 AM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 24 April
2008 9:16:33 AM oleh yajuk
• SAJAK > 2008
> Memori Senja disumbangkan pada Khamis, 24 April 2008 9:16:33 AM • Kali
terakhir diubah pada Khamis, 24 April 2008 7:41:25 PM oleh drirwan
dibakar mentari
telah kusam dan masam
terendam kumbahan
tidak lagi menambah seri
meski di laman sendiri.
Hendakku bertongkat
pada anak dan menantu
tapi langit telah retak seribu
dan bumi berkerapah dengan duri
ada api dalam sekam
api tak kelihatan
asap berkepul merata-rata.
Masih ku ingin menjaring mimpi
masih ku ingin menjaja janji
biar mereka menangguk di air keruh
biar mereka menjadi musang berbulu ayam
biar mereka menyokong membawa rebah
biar mereka menjadi pagar pagar makan padi
aku pantang dicabar
biar menang menjadi arang
alah menjadi abu
aku tak mungkin menyerah kalah.
Ada tangan-tangan kotor melempar batu
telah keruhlah air di muara
kerana tangan yang mencincang tak mahu memikul
terpalitlah aku dengan getah nangka.
Telah tersilap aku menghitung
telah tersasar segala impian
tak tercari Al ghazali dan Al shafei
jadilah aku lebai malang
mewarisi segala kebobrokan
mewarisi segala kemusnahan
ada jerangkap samar merata-rata
telah menjadi momokan segala impian
mahu menjadi insan cemerlang gemilang dan terbilang.
Yajuk
Bukit Jering
23hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Memori Senja disumbangkan pada
Khamis, 24 April 2008 9:16:33 AM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 24 April
2008 9:16:33 AM oleh yajuk
• SAJAK > 2008
> Memori Senja disumbangkan pada Khamis, 24 April 2008 9:16:33 AM • Kali
terakhir diubah pada Khamis, 24 April 2008 7:41:25 PM oleh drirwan
24.Menjaring Mimpi
Aku masih jua menjaring mimpi
walau kapal telah sarat
memuat sampah.
Masih segar kuntuman bunga cinta
menghiasi taman hati
meski hati ini sering terluka
dan kau biarkan ia berdarah
terlalu perit menikam tajam
terlalu pedih menyiat perasaan
bagai api dalam sekam
membakar diri siang dan malam
tak kau peduli luka-luka itu membarah
menunggu waktu untuk pecah.
Ku tahu mahumu
terus aku menyatakan sayang
biar aku mendakap rindu
menjadi penunggu sepi berpanjangan
hanyut dalam harapan
sedang di hatimu
orang lain yang kau rindu.
Dalam kau membisu
dan sepi aku menanti
kau masih tegak berdiri
tak mahu ia memudar padam
dalam pedih mendidih hati ini
tak mahu ia pergi bersama angin
meski hati sudah tidak pasti
aku masih jua menjaring mimpi.
Yajuk
Bukit Jering
28hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Menjaring Mimpi disumbangkan pada
Selasa, 22 April 2008 10:36:16 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 22 April
2008 5:00:45 PM oleh drirwan
walau kapal telah sarat
memuat sampah.
Masih segar kuntuman bunga cinta
menghiasi taman hati
meski hati ini sering terluka
dan kau biarkan ia berdarah
terlalu perit menikam tajam
terlalu pedih menyiat perasaan
bagai api dalam sekam
membakar diri siang dan malam
tak kau peduli luka-luka itu membarah
menunggu waktu untuk pecah.
Ku tahu mahumu
terus aku menyatakan sayang
biar aku mendakap rindu
menjadi penunggu sepi berpanjangan
hanyut dalam harapan
sedang di hatimu
orang lain yang kau rindu.
Dalam kau membisu
dan sepi aku menanti
kau masih tegak berdiri
tak mahu ia memudar padam
dalam pedih mendidih hati ini
tak mahu ia pergi bersama angin
meski hati sudah tidak pasti
aku masih jua menjaring mimpi.
Yajuk
Bukit Jering
28hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Menjaring Mimpi disumbangkan pada
Selasa, 22 April 2008 10:36:16 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 22 April
2008 5:00:45 PM oleh drirwan
Friday, 24 February 2012
23.Dia Masih Jua Mahu Menyalak
Dia masih jua mahu menyalak
tanpa mahu ia mengerti
yang disalaknya bukan siapa-siapa
yang disalaknya adalah bayang-bayang sendiri
yang disalaknya adalah sebuah mimpi ngeri
memori silam penuh kekejaman.
Tampak berkerak awan hitam
dan langit memerah dengan petir dan guruh
kerana ruang udara telah hapak dan tengit
dengan kencing dan najis beterbangan
disedut hangat mentari
diputar puting beliung
dia menggigil mencari perlindungan
sambil menyalak menunjukkan taring.
Di matanya ada cermin retak seribu
jadilah ia ingat-ingat lupa
dia juga datang dari bangsa dan keturunan
Melayu mudah lupa
menyalaklah ia katanya tanpa segan silu
kembalilah kepada asal
buanglah kuta pencalunan
biar ada pertandingan
selamatkan maruah parti
parti sudah hancur
undurlah wahai Lebai Malang
cukuplah satu penggal
kau sudah tidak relevan lagi.
Di cebisan lain cermin itu
langsung dia tidak ingat apa-apa
atau hanya buat-buat tak ingat
ada bayangan hitam legam kelihatan
katanya macam kenal ;tapi tidak pasti
siapa jadi pelakun dan siapa pengarahnya
tunggang langgang jadinya undang-undang
dia menghukum sebelum adanya perbicaraan
Si mata lebam sedang menuntut keadilan
ada tsunami telah meruntuhkan benteng
kemana aku mahu lari
kenapa Lebai Malang tidak mahu mengerti
di belakangmu aku tidak bisa berlindung diri.
Dia masih jua mahu menyalak
yang disalaknya bukan siapa-siapa
yang disalaknya adalah bayang-bayang sendiri
dialah punca segalanya.
Yajuk
Bukit Jering
18hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Dia Masih Jua Mahu Menyalak
disumbangkan pada Ahad, 20 April 2008 12:09:18 AM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 20 April 2008 12:09:18 AM oleh yajuk
tanpa mahu ia mengerti
yang disalaknya bukan siapa-siapa
yang disalaknya adalah bayang-bayang sendiri
yang disalaknya adalah sebuah mimpi ngeri
memori silam penuh kekejaman.
Tampak berkerak awan hitam
dan langit memerah dengan petir dan guruh
kerana ruang udara telah hapak dan tengit
dengan kencing dan najis beterbangan
disedut hangat mentari
diputar puting beliung
dia menggigil mencari perlindungan
sambil menyalak menunjukkan taring.
Di matanya ada cermin retak seribu
jadilah ia ingat-ingat lupa
dia juga datang dari bangsa dan keturunan
Melayu mudah lupa
menyalaklah ia katanya tanpa segan silu
kembalilah kepada asal
buanglah kuta pencalunan
biar ada pertandingan
selamatkan maruah parti
parti sudah hancur
undurlah wahai Lebai Malang
cukuplah satu penggal
kau sudah tidak relevan lagi.
Di cebisan lain cermin itu
langsung dia tidak ingat apa-apa
atau hanya buat-buat tak ingat
ada bayangan hitam legam kelihatan
katanya macam kenal ;tapi tidak pasti
siapa jadi pelakun dan siapa pengarahnya
tunggang langgang jadinya undang-undang
dia menghukum sebelum adanya perbicaraan
Si mata lebam sedang menuntut keadilan
ada tsunami telah meruntuhkan benteng
kemana aku mahu lari
kenapa Lebai Malang tidak mahu mengerti
di belakangmu aku tidak bisa berlindung diri.
Dia masih jua mahu menyalak
yang disalaknya bukan siapa-siapa
yang disalaknya adalah bayang-bayang sendiri
dialah punca segalanya.
Yajuk
Bukit Jering
18hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Dia Masih Jua Mahu Menyalak
disumbangkan pada Ahad, 20 April 2008 12:09:18 AM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 20 April 2008 12:09:18 AM oleh yajuk
22.Seberkas Surat Cinta
Seberkas surat cinta
masih harum baunya
melekat di lipatan
helai-helai manisnya senyuman
meski telah diposkan
ke dalam peti kenangan.
Seberkas surat cinta
masih basah dengan airmata
melekat di tiap lapaz yang terpadam
tanpa kepastian dan terpendam
merungkai simpulan mati di hati
yang resah menanti.
Seberkas surat cinta
masih pekat dengan rindu
menerjah langit pilu
tanpa mahu mengerti
ada ombak ganas menanti
menggulung sepi di laut luas.
Seberkas surat cinta
masih merah dengan darah
bila hati tersiat sembilu
lalu kaki memijak takdir
reda retak menjadi debu
dan melayanglah layang-layang tanpa talinya.
Seberkas surat cinta
adalah hati yang mati
hidup kembali
bersama nur Ilahi.
Yajuk
Bukit jering
11hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Seberkas Surat Cinta disumbangkan
pada Selasa, 15 April 2008 4:48:51 PM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 15
April 2008 4:48:51 PM oleh yajuk
masih harum baunya
melekat di lipatan
helai-helai manisnya senyuman
meski telah diposkan
ke dalam peti kenangan.
Seberkas surat cinta
masih basah dengan airmata
melekat di tiap lapaz yang terpadam
tanpa kepastian dan terpendam
merungkai simpulan mati di hati
yang resah menanti.
Seberkas surat cinta
masih pekat dengan rindu
menerjah langit pilu
tanpa mahu mengerti
ada ombak ganas menanti
menggulung sepi di laut luas.
Seberkas surat cinta
masih merah dengan darah
bila hati tersiat sembilu
lalu kaki memijak takdir
reda retak menjadi debu
dan melayanglah layang-layang tanpa talinya.
Seberkas surat cinta
adalah hati yang mati
hidup kembali
bersama nur Ilahi.
Yajuk
Bukit jering
11hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Seberkas Surat Cinta disumbangkan
pada Selasa, 15 April 2008 4:48:51 PM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 15
April 2008 4:48:51 PM oleh yajuk
21.Bila Air Keruh Di Muara
Bila air keruh di muara
selusurilah sampai ke hulu
telah runtuhkah tebing
yang memagari sungai
atau memang sungai telah penuh
menjadi sarang sampah terbuang.
Telah tersekat aliran
di timbunan sampah
balak-balak bergelimpangan
lalu terkandaslah laluan
dan tertutuplah harapan
air yang keruh kembali jernih
biawak ular pun berkeliaran
bersarang di dasar kotor sungai itu.
Telah berapongan najis di permukaan
mahukah kita menyelam
lalu air di dasarnya kita minum
kemana lagi menghilangnya kotoran
kalau bukan ke dasar hati
dan telah basilah nasi kerana kuahnya.
Bila air keruh di muara
biarkan ia bertakung di puncak gunung
sesekali kita lepaskan
biarkan arus memecah benteng
dan bah;biarlah merubah pantainya.
Yajuk
Bukit Jering
9hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Bila Air Keruh Di Muara disumbangkan
pada Ahad, 13 April 2008 7:57:48 AM • Kali terakhir diubah pada Ahad, 13 April
2008 7:57:48 AM oleh yajuk
selusurilah sampai ke hulu
telah runtuhkah tebing
yang memagari sungai
atau memang sungai telah penuh
menjadi sarang sampah terbuang.
Telah tersekat aliran
di timbunan sampah
balak-balak bergelimpangan
lalu terkandaslah laluan
dan tertutuplah harapan
air yang keruh kembali jernih
biawak ular pun berkeliaran
bersarang di dasar kotor sungai itu.
Telah berapongan najis di permukaan
mahukah kita menyelam
lalu air di dasarnya kita minum
kemana lagi menghilangnya kotoran
kalau bukan ke dasar hati
dan telah basilah nasi kerana kuahnya.
Bila air keruh di muara
biarkan ia bertakung di puncak gunung
sesekali kita lepaskan
biarkan arus memecah benteng
dan bah;biarlah merubah pantainya.
Yajuk
Bukit Jering
9hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Bila Air Keruh Di Muara disumbangkan
pada Ahad, 13 April 2008 7:57:48 AM • Kali terakhir diubah pada Ahad, 13 April
2008 7:57:48 AM oleh yajuk
20.Sayangku;Damaikan Hatimu
Sesekali sayangku
hentikan memandang langit tinggi
nantinya terlalu banyak bintang melambai
sedang kita hanya ada sekeping hati
tak tertakluk bintang beribu.
Sesekali sayangku
pandanglah rerumput di bumi
hijau segarnya tak pernah dihargai
dipijak-pijak atau disembur racun rumpai
lebih-lebih pun disabit-sabit
dipungut menjadi habuan haiwan.
Sesekali sayangku
tinggalkan kerdipan neon kota raya
nantinya terlalu banyak
bayang-bayang berkejaran
juga ada angin yang menyesakkan dada
nafas pun tercungap lemas
tertiarap dalam harapan tanpa kiblat
hari-hari terpaksa mengejar dan dikejar.
Sesekali sayangku
kembalilah ke desa permai
rasakan sejuk nyaman udaranya
dan air sungai yang mengalir dingin
biarkan membasahi lembah hati
yang telah gersang dan mati.
Sesekali sayangku
kembalilah kedalam diri
ada masa sedang melipat waktu
masa lalu
dan nafas hayat yang bergerak pantas
adalah maut yang semakin dekat
ada kitab yang tertulis lengkap
semak hitunglah;sebelum dipersembahkan.
Sesekali sayangku
kembalilah kepada fitrah diri
nyahkan segala bisikan syaitan dan iblis
ada baitullah di dasar suci seketul hati
ada mata yang sentiasa memerhati
ada bibir yang sentiasa mengucapkan zikir
ikutlah beristighfar zikir dan tahmid.
Sayangku;damaikan hatimu
rendangkan pepohon iman dan taqwa
istiqamahlah dalam syukur dan redha.
Yajuk
Bukit Jering
26hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Sayangku;Damaikan Hatimu disumbangkan
pada Khamis, 10 April 2008 11:43:00 AM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 10
April 2008 4:57:22 PM oleh drirwan
hentikan memandang langit tinggi
nantinya terlalu banyak bintang melambai
sedang kita hanya ada sekeping hati
tak tertakluk bintang beribu.
Sesekali sayangku
pandanglah rerumput di bumi
hijau segarnya tak pernah dihargai
dipijak-pijak atau disembur racun rumpai
lebih-lebih pun disabit-sabit
dipungut menjadi habuan haiwan.
Sesekali sayangku
tinggalkan kerdipan neon kota raya
nantinya terlalu banyak
bayang-bayang berkejaran
juga ada angin yang menyesakkan dada
nafas pun tercungap lemas
tertiarap dalam harapan tanpa kiblat
hari-hari terpaksa mengejar dan dikejar.
Sesekali sayangku
kembalilah ke desa permai
rasakan sejuk nyaman udaranya
dan air sungai yang mengalir dingin
biarkan membasahi lembah hati
yang telah gersang dan mati.
Sesekali sayangku
kembalilah kedalam diri
ada masa sedang melipat waktu
masa lalu
dan nafas hayat yang bergerak pantas
adalah maut yang semakin dekat
ada kitab yang tertulis lengkap
semak hitunglah;sebelum dipersembahkan.
Sesekali sayangku
kembalilah kepada fitrah diri
nyahkan segala bisikan syaitan dan iblis
ada baitullah di dasar suci seketul hati
ada mata yang sentiasa memerhati
ada bibir yang sentiasa mengucapkan zikir
ikutlah beristighfar zikir dan tahmid.
Sayangku;damaikan hatimu
rendangkan pepohon iman dan taqwa
istiqamahlah dalam syukur dan redha.
Yajuk
Bukit Jering
26hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Sayangku;Damaikan Hatimu disumbangkan
pada Khamis, 10 April 2008 11:43:00 AM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 10
April 2008 4:57:22 PM oleh drirwan
19.Hantu Telah Terlebih Muntah
Hantu telah terlebih muntah
tak tertelan oleh badang-badang kekenyangan
terpaksalah hantu menjilat sendiri
muntah yang meleleh di kaki.
Badang-badang telah kembali ke lubuk sepi
kerana hantu telah patah taringnya
bila terhantuk ke batu pejal keras
muntahnya cair dan mengalir deras
bagai titis-titis embun pagi
menghilang ditelan panas mentari.
Sekadar membalut luka
dan kudis buta yang membarah
badang-badang mencabut lukah
mendongak ke langit menelan ludah
dan hantu tersungkur di lembah derhaka
tak termampu lagi mengucap kata
cemerlang gemilang dan terbilang.
Hantu telah terlebih muntah
badang-badang ikut melatah
membawa sumpah derhaka
ada laut mendesah resah
menanti ribut menggulung badai
di sana sini bumi merekah
menanti gunung memuntahkan lumpur merah
setelah tsunami memecah pantai
adakah retak menjadi belah.
Yajuk
Miri Sarawak
1hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Hantu Telah Terlebih Muntah
disumbangkan pada Selasa, 8 April 2008 9:28:35 PM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 8 April 2008 9:28:35 PM oleh yajuk
tak tertelan oleh badang-badang kekenyangan
terpaksalah hantu menjilat sendiri
muntah yang meleleh di kaki.
Badang-badang telah kembali ke lubuk sepi
kerana hantu telah patah taringnya
bila terhantuk ke batu pejal keras
muntahnya cair dan mengalir deras
bagai titis-titis embun pagi
menghilang ditelan panas mentari.
Sekadar membalut luka
dan kudis buta yang membarah
badang-badang mencabut lukah
mendongak ke langit menelan ludah
dan hantu tersungkur di lembah derhaka
tak termampu lagi mengucap kata
cemerlang gemilang dan terbilang.
Hantu telah terlebih muntah
badang-badang ikut melatah
membawa sumpah derhaka
ada laut mendesah resah
menanti ribut menggulung badai
di sana sini bumi merekah
menanti gunung memuntahkan lumpur merah
setelah tsunami memecah pantai
adakah retak menjadi belah.
Yajuk
Miri Sarawak
1hb.april.2008
• SAJAK > 2008 > Hantu Telah Terlebih Muntah
disumbangkan pada Selasa, 8 April 2008 9:28:35 PM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 8 April 2008 9:28:35 PM oleh yajuk
18.Aku Masih Seekor Kelkatu
Aku masih seekor kelkatu
yang tidak serik mengejar cahaya
meski neon membakar hangus
diri ini tanpa sempat aku mengerti
erti diri yang hakiki.
Aku masih seekor kelkatu
yang tidak tahan pancaran mentari
hangat silau yang memeritkan
yang terbang sekerat cuma
tak tahu mana arah dan tujuan
sekadar menanti datangnya malam
ada neon yang mematikan;hayat insan.
Aku masih seekor kelkatu
bila sekian lama aku berlari
tak tahu mana arah destinasi
aku masih tetap disini
mewarisi ruang gelap duniawi.
Yajuk
Bukit Jering
25hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Aku Masih Seekor Kelkatu disumbangkan
pada Khamis, 27 Mac 2008 2:42:08 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 27 Mac
2008 2:42:08 PM oleh yajuk
yang tidak serik mengejar cahaya
meski neon membakar hangus
diri ini tanpa sempat aku mengerti
erti diri yang hakiki.
Aku masih seekor kelkatu
yang tidak tahan pancaran mentari
hangat silau yang memeritkan
yang terbang sekerat cuma
tak tahu mana arah dan tujuan
sekadar menanti datangnya malam
ada neon yang mematikan;hayat insan.
Aku masih seekor kelkatu
bila sekian lama aku berlari
tak tahu mana arah destinasi
aku masih tetap disini
mewarisi ruang gelap duniawi.
Yajuk
Bukit Jering
25hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Aku Masih Seekor Kelkatu disumbangkan
pada Khamis, 27 Mac 2008 2:42:08 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis, 27 Mac
2008 2:42:08 PM oleh yajuk
17.Tahun Merawat Atau Dirawat
Berbondong berduyun
Pak Dukun
Pawang-Pawang handalan
dari antah berantah
Tok Janggut dikatanya lumpuh
dah tak mampu berpencak silat
Badang-Badang yang muak menelan muntah
bertempik bersorak;umpan habis ditelan
ikan menyelam ke lubuk dalam
Pak Dukun kembali kebengongan
Si Luncai terjun
dengan labu-labunya.
50 tahun tubuhnya penuh kudis
berkerutu bagai katak puru
tapi hajatnya besar
terasa diri penuh keramat dan hikmat
maunya mengubat panau dan ruam
pada Che Mek Molek 18 tahun
tau-tau langkah tarinya sumbang
keris bersilang tertikam diri sendiri
nyata Tok Janggut tak goyah diterjah
langkahnya bertaut
salam bersambut.
Raja Bersiung menangis terkejun
taringnya patah merata-rata
kota purbanya diserang garuda
lima negerinya berpindah tangan
tak tahu lagi siapa merawat
dan siapa pula perlu dirawat.
Pak Dukun tak tahu dan keliru
nanar dan meracau
orang tamak selalunya rugi
yang dikejar tak dapat
yang dikendong beciciran
Yajuk
Bukit Jering
11hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Tahun Merawat Atau Dirawat
disumbangkan pada Selasa, 25 Mac 2008 10:41:52 AM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 25 Mac 2008 10:41:52 AM oleh yajuk
Pak Dukun
Pawang-Pawang handalan
dari antah berantah
Tok Janggut dikatanya lumpuh
dah tak mampu berpencak silat
Badang-Badang yang muak menelan muntah
bertempik bersorak;umpan habis ditelan
ikan menyelam ke lubuk dalam
Pak Dukun kembali kebengongan
Si Luncai terjun
dengan labu-labunya.
50 tahun tubuhnya penuh kudis
berkerutu bagai katak puru
tapi hajatnya besar
terasa diri penuh keramat dan hikmat
maunya mengubat panau dan ruam
pada Che Mek Molek 18 tahun
tau-tau langkah tarinya sumbang
keris bersilang tertikam diri sendiri
nyata Tok Janggut tak goyah diterjah
langkahnya bertaut
salam bersambut.
Raja Bersiung menangis terkejun
taringnya patah merata-rata
kota purbanya diserang garuda
lima negerinya berpindah tangan
tak tahu lagi siapa merawat
dan siapa pula perlu dirawat.
Pak Dukun tak tahu dan keliru
nanar dan meracau
orang tamak selalunya rugi
yang dikejar tak dapat
yang dikendong beciciran
Yajuk
Bukit Jering
11hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Tahun Merawat Atau Dirawat
disumbangkan pada Selasa, 25 Mac 2008 10:41:52 AM • Kali terakhir diubah pada
Selasa, 25 Mac 2008 10:41:52 AM oleh yajuk
16.Jika Aku Adalah Dia;Suamimu
Jika aku adalah dia;suamimu
mahu aku melihat bulan purnama
mengambang penuh di laman rumah
sejuk nyaman cahayamu
menerangai ruang-ruang gelap hatiku
paling tidaknya kaulah pengukir acuan
melakar kuntuman bunga-bunga
pada canvas putih kelahiran
putera puteri rumah ini.
Telah pecahlah peti kasih
kerna rindumu telah tumpah
dan kerap pula ku temukan
kebetulan-kebetulan yang melukakan
ada sembilu yang merobekkan
ada duri yang menikam tajam
yang putih telah menjadi hitam
doapun bertukar menjadi sumpahan
kerna dalam menyelam
sering kau minum air kecurangan
aku pun jadi keliru
itukah sebenarnya;Warna-warna hatimu.
Jika aku adalah dia;suamimu
akan ku robohkan empangan kasih
biarkan air
rindumu mengalir bebas
menjadi ombak
ganas laut lepas
taklah hati meremuk lemas
bagai kaca terhempas kebatu
atau kering layu di pepohon mati
gugur menjadi sampah terbuang.
Yajuk
Bukit Jering
16hb.mac.2008
• SAJAK > 2008 > Jika Aku Adalah Dia;Suamimu
disumbangkan pada Rabu, 19 Mac 2008 6:55:45 PM • Kali terakhir diubah pada
Rabu, 19 Mac 2008 6:55:45 PM oleh yajuk
15.Kaulah Isteri
Telah bertakung rindu
di empangan kasih
yang dulu tersemai
dari titis-titis hujan
sering tertusuk sembilu
di pintu gua pilu
sebuah pencarian
arti cinta dan kehidupan.
Telah terukir arca cinta
menjadi mahligai syahdu
meski guruh kerap berlabuh
dan banjir merusuh
merobek dinding reda
sedang syukur berarak resah
dalam pahit hempedu yang pecah.
Tersimpul mimpi di sinar mentari
terpahat azam bersuluh iman
tiada ruang terisi luka lara
sentiasa meredah samudera bergelora
tanpa mendesah bertongkat tawakkal
terbinalah cinta di tujuh benua
telah membiak pepohon rindu
bersama hayat putera puteri
hanya doa dan restu-Mu
dalam pasrah dan reda
menyulam impian
mengapai bintang-bintang.
Kaulah isteri
bidadariku
ratu hati putera puteri
kau dan aku menjadi satu
ribut taufan pun malu tersipu
tak terusik kasihmu kasihku
dirgahayu cinta ini
meneguk haruman kasturi
bersama melayari bahtera ini
menghadapmu Ilahi.
Yajuk
Bukit Jering
21hb.feb.2008
• SAJAK > 2008 > Kaulah Isteri disumbangkan pada
Isnin, 17 Mac 2008 5:44:23 PM • Kali terakhir diubah pada Isnin, 17 Mac 2008
5:44:23 PM oleh yajuk
14.Telah Kuning Kemerahan;Daun Itu
Telah kuning kemerahan;daun itu
biar masih ligat menari
meliut lintup
dibuai tiupan angin
kekadang rindu
menanti ribut datang
dalam letih longlai
mahu ia terbang melayang
biar akhirnya terkapar di bumi.
Belum gugur ia
masih mahu berpaut di dahan
tak mahu jatuh mereput di bumi
masih mengharap sinar mentari
menukar warna kuningnya
menjadi keemasan
malang;daun tidak ada pilihan
tangkai tak mampu bertahan
terlepas;daun gugur menyembah bumi.
Telah kuning kemerahan;daun itu
hatinya pilu
terluka dan merana
tertusuk sembilu
dihantui cemburu
daun muda bercambah di dahan
merubah kasih rindu pepohon
hadirnya tidak lagi menambah seri
biarlah ia gugur dan berkubur
menjadi tanah penguat akar
pokok subur merimbun
menjulang langit tinggi.
Yajuk
Bukit Jering
6hb.feb.2008
• SAJAK > 2008 > Telah Kuning Kemerahan;Daun Itu
disumbangkan pada Ahad, 10 Februari 2008 4:08:22 PM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 10 Februari 2008 4:08:22 PM oleh yajuk
biar masih ligat menari
meliut lintup
dibuai tiupan angin
kekadang rindu
menanti ribut datang
dalam letih longlai
mahu ia terbang melayang
biar akhirnya terkapar di bumi.
Belum gugur ia
masih mahu berpaut di dahan
tak mahu jatuh mereput di bumi
masih mengharap sinar mentari
menukar warna kuningnya
menjadi keemasan
malang;daun tidak ada pilihan
tangkai tak mampu bertahan
terlepas;daun gugur menyembah bumi.
Telah kuning kemerahan;daun itu
hatinya pilu
terluka dan merana
tertusuk sembilu
dihantui cemburu
daun muda bercambah di dahan
merubah kasih rindu pepohon
hadirnya tidak lagi menambah seri
biarlah ia gugur dan berkubur
menjadi tanah penguat akar
pokok subur merimbun
menjulang langit tinggi.
Yajuk
Bukit Jering
6hb.feb.2008
• SAJAK > 2008 > Telah Kuning Kemerahan;Daun Itu
disumbangkan pada Ahad, 10 Februari 2008 4:08:22 PM • Kali terakhir diubah pada
Ahad, 10 Februari 2008 4:08:22 PM oleh yajuk
13.Selamat Pagi Cikgu
Telah hanyut ungkapan itu
tiada hormat
keramat tak berbisa
sekadar ucapan cuma
tradisi berzaman
jangan tersalah merembat
nakal perangai anak
nanti ayah datang
bawa peguam
kena saman.
Masa berlalu
cikgu dalam kelas
nak menegur biar beralas
lembutkan tulang dari lidah
nantinya tayar pamcit
cermin pecah
atau muka bengkak
mata lebam.
Apa lagi yang ada
ajarlah membaca
menulis dan mengira
selebihnya
membesarlah
di acuan sendiri
tinggallah selamat pagi
cikgu terasing di sudut memori.
Yajuk
Bukit jering
5 feb 2008
• SAJAK > 2008 > Selamat Pagi Cikgu disumbangkan pada
Rabu, 6 Februari 2008 11:25:09 AM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 6 Februari
2008 11:25:09 AM oleh yajuk
tiada hormat
keramat tak berbisa
sekadar ucapan cuma
tradisi berzaman
jangan tersalah merembat
nakal perangai anak
nanti ayah datang
bawa peguam
kena saman.
Masa berlalu
cikgu dalam kelas
nak menegur biar beralas
lembutkan tulang dari lidah
nantinya tayar pamcit
cermin pecah
atau muka bengkak
mata lebam.
Apa lagi yang ada
ajarlah membaca
menulis dan mengira
selebihnya
membesarlah
di acuan sendiri
tinggallah selamat pagi
cikgu terasing di sudut memori.
Yajuk
Bukit jering
5 feb 2008
• SAJAK > 2008 > Selamat Pagi Cikgu disumbangkan pada
Rabu, 6 Februari 2008 11:25:09 AM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 6 Februari
2008 11:25:09 AM oleh yajuk
12.Tiada Noktah Di Sini
Siapa pun kita
tak pernah meminta
berada di sini
aku kau mahu pun dia
memenuhi ruang waktu
semalam hari ini
malah selamanya
bergerak atas landasan itu
tiada noktahnya
koma dan koma cuma
Bergerak langkah pertama
jalannya lurus atau berliku
bengkok-bengkok
menurun atau menaik
laju beralas aspal
perlahan meranduk lumpur
lembut halus di hamparan baldu
keras pedih diranduk kerikil
berputar dan berputar
tingkah bertingkah
tak bernoktah
jadi;jadilah diri sendiri
suci;sesuci fitrahnya
"al insanu sirri wa ana sirruhu
qalbu mukminin baitullah".
Ilahi anta maksudi waredhaka matlubi
melangkahlah pergilah:arah itu
jangan berpaling
biar merangkak biar tertiarap
menongkah arus jangan terhenti
tiada noktah di sini dalam hayat insani
mati:ada alam lain menanti
lanjutan perjalanan ini.
yajuk
Bukit Jering
17hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Tiada Noktah Di Sini disumbangkan
pada Jumaat, 8 Februari 2008 4:11:53 PM • Kali terakhir diubah pada Jumaat, 8
Februari 2008 6:14:24 PM oleh drirwan
tak pernah meminta
berada di sini
aku kau mahu pun dia
memenuhi ruang waktu
semalam hari ini
malah selamanya
bergerak atas landasan itu
tiada noktahnya
koma dan koma cuma
Bergerak langkah pertama
jalannya lurus atau berliku
bengkok-bengkok
menurun atau menaik
laju beralas aspal
perlahan meranduk lumpur
lembut halus di hamparan baldu
keras pedih diranduk kerikil
berputar dan berputar
tingkah bertingkah
tak bernoktah
jadi;jadilah diri sendiri
suci;sesuci fitrahnya
"al insanu sirri wa ana sirruhu
qalbu mukminin baitullah".
Ilahi anta maksudi waredhaka matlubi
melangkahlah pergilah:arah itu
jangan berpaling
biar merangkak biar tertiarap
menongkah arus jangan terhenti
tiada noktah di sini dalam hayat insani
mati:ada alam lain menanti
lanjutan perjalanan ini.
yajuk
Bukit Jering
17hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Tiada Noktah Di Sini disumbangkan
pada Jumaat, 8 Februari 2008 4:11:53 PM • Kali terakhir diubah pada Jumaat, 8
Februari 2008 6:14:24 PM oleh drirwan
11.Aku
Aku
di sini;ini
bukan bermain
bukan juga olok-olok
tapi;betul benar
sungguh-sungguh
jalan kedepan
sokmo-sokmo
takdak gustan
menghadap Tuhan.
Telah terukir
arca diri sendiri-sendiri
dalam pasrah
teredah belantara
terharung lautan
tersemai kasih
dan terkumpul rindu
mencari jalan kembali.
Jika tak bersatu
di diriku hayat-Mu
masakan ada hayatku
tak tahulah
aku ada
atau Esanya Engkau
di mana-mana
berkembang acuan
Engkau segalanya
tanpa sekutu
Esa semata.
yajuk
Bukit Jering
29hb.jan.2008
• SAJAK > 2008
> Aku disumbangkan pada Isnin, 4 Februari 2008 6:03:12 PM • Kali terakhir
diubah pada Isnin, 4 Februari 2008 6:03:12 PM oleh yajuk
di sini;ini
bukan bermain
bukan juga olok-olok
tapi;betul benar
sungguh-sungguh
jalan kedepan
sokmo-sokmo
takdak gustan
menghadap Tuhan.
Telah terukir
arca diri sendiri-sendiri
dalam pasrah
teredah belantara
terharung lautan
tersemai kasih
dan terkumpul rindu
mencari jalan kembali.
Jika tak bersatu
di diriku hayat-Mu
masakan ada hayatku
tak tahulah
aku ada
atau Esanya Engkau
di mana-mana
berkembang acuan
Engkau segalanya
tanpa sekutu
Esa semata.
yajuk
Bukit Jering
29hb.jan.2008
• SAJAK > 2008
> Aku disumbangkan pada Isnin, 4 Februari 2008 6:03:12 PM • Kali terakhir
diubah pada Isnin, 4 Februari 2008 6:03:12 PM oleh yajuk
10.Lori Sampah
Yang dimamahnya
ditelannya
dipunggahnya
disimpannya kemas
dalam perutnya
nak muntah
ikut belakang menyumpah
tak peduli caci maki
ada apa pada maruah
janji temboloknya penuh.
Zaman berubah
musim berganti
masih lagi sampah
denyut nadinya
hela nafasnya
impian dan azam rindunya
tak peduli jika semua menyampah
meluat sebut namanya
memang kerjanya
membolot sampah.
Ops!
jangan salahkan dia
ada tangan-tangan kotor
menyuap
menghisap madu hampas dibuang
meratah daging
tulang dicampak ke lokang
berkerapah dan tersumbat
apa lagi
lori sampah menunggu
memunggah
mengangkut semuanya.
yajuk
Bukit Jering
28hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Lori Sampah disumbangkan pada Rabu,
30 Januari 2008 10:02:32 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 30 Januari 2008
10:02:32 PM oleh yajuk
9.Adilkah Kita
Adilkah kita
tiap saat tiap ketika
di dakapan-Nya
dijaga dan dibelai
tak pernah terlerai kasih-Nya
tiba-tiba dalam pelukan-Nya
kita mengungkapkan cinta
pada selain Dia.
Adilkah kita
sentiasa menyeru nama-Nya
merintih dan meminta
meratap hiba dalam pedih derita
mengharung onak duri
tiba-tiba didepan mata-Nya
kita mengucapkan i love u
pada selain Dia.
Adilkah kita
bila hadir-Nya tak dihargai
hilang-Nya tak tercari
kasihNya tak berbalas
sentiasa kita lupa
tak tersebut nama-Nya
tak kita ingat budi-Nya
merungut dan menggerutu
bila hajat tak tertunai
bila doa tak dimakbulkan.
Adilkah kita
tidakkah dia cemburu
kasih rindu kita
tertumpah pada selain Dia.
yajuk
Bukit Jering
26hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Adilkah Kita disumbangkan pada Isnin,
28 Januari 2008 9:37:20 PM • Kali terakhir diubah pada Isnin, 28 Januari 2008
9:37:20 PM oleh yajuk
tiap saat tiap ketika
di dakapan-Nya
dijaga dan dibelai
tak pernah terlerai kasih-Nya
tiba-tiba dalam pelukan-Nya
kita mengungkapkan cinta
pada selain Dia.
Adilkah kita
sentiasa menyeru nama-Nya
merintih dan meminta
meratap hiba dalam pedih derita
mengharung onak duri
tiba-tiba didepan mata-Nya
kita mengucapkan i love u
pada selain Dia.
Adilkah kita
bila hadir-Nya tak dihargai
hilang-Nya tak tercari
kasihNya tak berbalas
sentiasa kita lupa
tak tersebut nama-Nya
tak kita ingat budi-Nya
merungut dan menggerutu
bila hajat tak tertunai
bila doa tak dimakbulkan.
Adilkah kita
tidakkah dia cemburu
kasih rindu kita
tertumpah pada selain Dia.
yajuk
Bukit Jering
26hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Adilkah Kita disumbangkan pada Isnin,
28 Januari 2008 9:37:20 PM • Kali terakhir diubah pada Isnin, 28 Januari 2008
9:37:20 PM oleh yajuk
8.Titik-Titik Hujan
Titik-titik hujan
biarkan menitik membasahi bumi
kerna mentari telah lama mengumpul awan
dan sawah bendang juga telah kering kontang
bila air tersekat di empangan pilu
biarkan melimpah membasahi kolah pedih sekeping hati.
Telah terkerak duga di periuk takdir
meratah sumsum keutuhan diri
menafsir menghalusi warna-warna pelangi
akan retakkah cermin iman meniti titian berliku
akan menggelupur layukah taqwa dimamah musim gugur
kan berbungakah keyakinan rahmat dan kasihnya
menanti berkembangnya tulip dilaman syukur dan redha.
Bangunlah bangkitlah
dari selimut pilu
kuburkan nyanyian dan bisikan duka
di ribuan pintu syukur yang masih terkunci
buka dan masuklah ke dalam diri
sampai kedasar hati
terlerailah rindu malaikat memancarlah sinar mentari
terang benderanglah bulan purnama
bergemerlapanlah bintang-bintang
menyambut hadir mu di situ menjadi khalifah Allah sejati.
yajuk
bukit jering
25hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Titik -Titik Hujan disumbangkan pada
Ahad, 27 Januari 2008 9:03:32 AM • Kali terakhir diubah pada Ahad, 27 Januari
2008 9:03:32 AM oleh yajuk
7.Telan Muntah Hantu
Menelan muntah hantu
mahu jadi badang
biar diri adalah tikus munduk
ulat gonggok pak ko hanguk mengangguk
angguk dan angguk lagi
berpusu merayap mengejar hantu polong
hantu tinggi hantu raya dari kota sang sapurba
lebihlah lagi bila yang datang
pontianak harum sundal malam
penuh harap nikmatnya muntah jembalang
dapat jadi badang perkasa dan terbilang.
Menelan muntah hantu
mahu jadi badang
katak kembong mengaum
terbelah langit dijunjung
bumi dipijak merekah
di mana-mana merekah dan terbelah
berkerapah dan punah
meski sehelai pelikat sekampit beras cuma
hantu bertukar menjadi berhala
dipuja siang malam
badang berhidmat seluruh jiwa raga.
Menelan muntah hantu
mahu jadi badang
PRU hampir datang
beterbanganlah hantu dan jembalang
datang bertandang
melimpah ruahlah muntahan dan kumbahan
memenuhi lurah dan limbahan
badang bersorak kekenyangan
ayam di kepuk mati kelaparan.
Yajuk
Bukit jering
21hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Telan Muntah Hantu disumbangkan
pada Khamis, 24 Januari 2008 11:25:30 AM • Kali terakhir diubah pada
Khamis, 24 Januari 2008 11:25:30 AM oleh yajuk
mahu jadi badang
biar diri adalah tikus munduk
ulat gonggok pak ko hanguk mengangguk
angguk dan angguk lagi
berpusu merayap mengejar hantu polong
hantu tinggi hantu raya dari kota sang sapurba
lebihlah lagi bila yang datang
pontianak harum sundal malam
penuh harap nikmatnya muntah jembalang
dapat jadi badang perkasa dan terbilang.
Menelan muntah hantu
mahu jadi badang
katak kembong mengaum
terbelah langit dijunjung
bumi dipijak merekah
di mana-mana merekah dan terbelah
berkerapah dan punah
meski sehelai pelikat sekampit beras cuma
hantu bertukar menjadi berhala
dipuja siang malam
badang berhidmat seluruh jiwa raga.
Menelan muntah hantu
mahu jadi badang
PRU hampir datang
beterbanganlah hantu dan jembalang
datang bertandang
melimpah ruahlah muntahan dan kumbahan
memenuhi lurah dan limbahan
badang bersorak kekenyangan
ayam di kepuk mati kelaparan.
Yajuk
Bukit jering
21hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Telan Muntah Hantu disumbangkan
pada Khamis, 24 Januari 2008 11:25:30 AM • Kali terakhir diubah pada
Khamis, 24 Januari 2008 11:25:30 AM oleh yajuk
6.Pak Pandir Tak Tahu Dan Keliru
Pak Pandir Tak Tahu Dan Keliru
Pak Pandir tak tahu dan keliru
anak siapakah itu
terkejun dan keras
gelandangan di jalanan
mati tak tertanam
hatinya pitam dan kelam
sungguh malang matinya tak berkubur
siapakah ayahnya siapakah ibunya.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
anak akukah itu bertahta di situ
mahligaiku dulu
hatinya gusar dan nanar
anaknya bertukar menjadi Lebai Malang
tak tercari Al ghazali dan Al shafei
telah terputus bahasa dan bicara antara keduanya
anaknya diajar sains dan matematik
bahasa inggeris dia mahir punya
telah tertumpahlah kuah ke nasi bercampur nanah
Pak Pandir kembali ke pusara bonda
meratap menangis suaranya hilang entah kemana.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
telah hilang segala juak dan hulubalang
desa dan kotanya dilanggar todak
hantu dan jembalang beterbangan
mengejar bangkai dan kumbahan
hatinya kesal dan merana
kenapa aku jahat dan kejam
telah ku tanam hidup-hidup anak itu
dulu aku takut dan gusar
dia selalu langgar pantang dan larang
kelak dirampasnya mahkotaku.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
telah didakwa orang
dialah punca segalanya
tanah negerinya gersang dan merekah
langitnya retak dan pecah-pecah
ruang udaranya hapak dan haprak
kelkatu kerdil lapar dan terbakar
istananya terlepas ketangan orang yang salah
lemah dan tak tahu memerintah
bagai kera mendapat bunga.
Yajuk
bukit jering
21hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Pak Pandir Tak Tahu
Dan Keliru disumbangkan pada Selasa, 22 Januari 2008 11:02:57 AM •
Kali terakhir diubah pada Selasa, 22 Januari 2008 11:02:57 AM oleh yajuk
Pak Pandir tak tahu dan keliru
anak siapakah itu
terkejun dan keras
gelandangan di jalanan
mati tak tertanam
hatinya pitam dan kelam
sungguh malang matinya tak berkubur
siapakah ayahnya siapakah ibunya.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
anak akukah itu bertahta di situ
mahligaiku dulu
hatinya gusar dan nanar
anaknya bertukar menjadi Lebai Malang
tak tercari Al ghazali dan Al shafei
telah terputus bahasa dan bicara antara keduanya
anaknya diajar sains dan matematik
bahasa inggeris dia mahir punya
telah tertumpahlah kuah ke nasi bercampur nanah
Pak Pandir kembali ke pusara bonda
meratap menangis suaranya hilang entah kemana.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
telah hilang segala juak dan hulubalang
desa dan kotanya dilanggar todak
hantu dan jembalang beterbangan
mengejar bangkai dan kumbahan
hatinya kesal dan merana
kenapa aku jahat dan kejam
telah ku tanam hidup-hidup anak itu
dulu aku takut dan gusar
dia selalu langgar pantang dan larang
kelak dirampasnya mahkotaku.
Pak Pandir tak tahu dan keliru
telah didakwa orang
dialah punca segalanya
tanah negerinya gersang dan merekah
langitnya retak dan pecah-pecah
ruang udaranya hapak dan haprak
kelkatu kerdil lapar dan terbakar
istananya terlepas ketangan orang yang salah
lemah dan tak tahu memerintah
bagai kera mendapat bunga.
Yajuk
bukit jering
21hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Pak Pandir Tak Tahu
Dan Keliru disumbangkan pada Selasa, 22 Januari 2008 11:02:57 AM •
Kali terakhir diubah pada Selasa, 22 Januari 2008 11:02:57 AM oleh yajuk
5.Bila Air Bah
Bila air bah
pasir terbelahdan berpecah
berubah di takungan maruah
mencari alpa dalam pasrah
ada ribut ada petir memanah
ada hati muntah dan patah
melakar sejarah
Bila air bah
langit merekah
tanah berlumpur
hanyir bercampur darah
termuntah dari rahang-rahang serakah
menelan kerikil dari perut penjarah
Bila air bah
ada gunung hancur lebur
ada lurah menadah tumpahan melimpah
yang beruntung bertambah tuahnya
yang melarat bertambah merempatnya
aku kau dia terpalit bersamanya
yajuk
Bukit Jering
16hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Bila air bah disumbangkan
pada Isnin, 21 Januari 2008 8:59:20 AM • Kali terakhir diubah pada Isnin,
21 Januari 2008 8:59:20 AM oleh yajuk
pasir terbelahdan berpecah
berubah di takungan maruah
mencari alpa dalam pasrah
ada ribut ada petir memanah
ada hati muntah dan patah
melakar sejarah
Bila air bah
langit merekah
tanah berlumpur
hanyir bercampur darah
termuntah dari rahang-rahang serakah
menelan kerikil dari perut penjarah
Bila air bah
ada gunung hancur lebur
ada lurah menadah tumpahan melimpah
yang beruntung bertambah tuahnya
yang melarat bertambah merempatnya
aku kau dia terpalit bersamanya
yajuk
Bukit Jering
16hb.jan.2008
• SAJAK > 2008 > Bila air bah disumbangkan
pada Isnin, 21 Januari 2008 8:59:20 AM • Kali terakhir diubah pada Isnin,
21 Januari 2008 8:59:20 AM oleh yajuk
4.Di Sini Ada Tembok
Di sini ada tembok
keliling kotamu
terbina dengan darah
dan airmata pun tertumpah
teguh kukuh
gah menaranya
menjulang langit
lalu ruang udarapun bingit
kepanasan
membakar dada kelkatu kerdil
tertelan kerikil dan kumbahan
muntahan dewa-dewa kayangan.
Di sini ada tembok
sekuat Gunung Tahan
setinggi Gunung Kinabalu
sedang para marhaen
berselimut lumpur
menjerut perut dengan dawai berduri
dan ada unggun api membakar hatinya
terpenjara dan hangus rentung
di atas kepalanya terbina jambatan emas
buat meminang cinta suci
putera puteri Gunung Ledang.
Telah terbinalah tembok
keliling kota itu
berjeriji besi berpagar undang-undang belantara
beratap ISA
berhakimkan hawa nafsu
mahumu bertahta di situ
seribu tahun lagi
menjadi Raja Firaun.
Yajuk
Bukit Jering
18hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Di sini ada tembok disumbangkan
pada Sabtu, 19 Januari 2008 8:51:51 AM • Kali terakhir diubah pada Sabtu,
19 Januari 2008 8:51:51 AM oleh yajuk
keliling kotamu
terbina dengan darah
dan airmata pun tertumpah
teguh kukuh
gah menaranya
menjulang langit
lalu ruang udarapun bingit
kepanasan
membakar dada kelkatu kerdil
tertelan kerikil dan kumbahan
muntahan dewa-dewa kayangan.
Di sini ada tembok
sekuat Gunung Tahan
setinggi Gunung Kinabalu
sedang para marhaen
berselimut lumpur
menjerut perut dengan dawai berduri
dan ada unggun api membakar hatinya
terpenjara dan hangus rentung
di atas kepalanya terbina jambatan emas
buat meminang cinta suci
putera puteri Gunung Ledang.
Telah terbinalah tembok
keliling kota itu
berjeriji besi berpagar undang-undang belantara
beratap ISA
berhakimkan hawa nafsu
mahumu bertahta di situ
seribu tahun lagi
menjadi Raja Firaun.
Yajuk
Bukit Jering
18hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Di sini ada tembok disumbangkan
pada Sabtu, 19 Januari 2008 8:51:51 AM • Kali terakhir diubah pada Sabtu,
19 Januari 2008 8:51:51 AM oleh yajuk
3.Bila Rama-Rama Telah Terbang
Bila rama-rama telah terbang
tinggallah kepompong
kekeringan dan rapuh
hancur dan berdebu
lalu hilang ditiup angin
sebati menjadi tanah.
Bila rama-rama telah terbang
kepompong kehilangan dirinya
tiada daya untuk bergerak
dan hilanglah deria penglihatan
tak nampak lagi arah mana
rama-rama telah pergi
jadilah ia kaku dan kosong
seperti yang lain-lain
kembali ke tanah gersang.
Bila rama-rama telah terbang
mengertilah ia hakikat dirinya
sekadar bertandang di situ
berselimutkan kepompong itu
kelak kembalilah pada diri sendiri
menghidu haruman bunga-bunga di taman
kekadang mengapai awan dan langit tinggi
menyapa bulan dan bintang-bintang.
Yajuk
Bukit jering
15hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Bila rama-rama telah terbang disumbangkan
pada Khamis, 17 Januari 2008 7:07:42 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis,
17 Januari 2008 7:07:42 PM oleh yajuk
tinggallah kepompong
kekeringan dan rapuh
hancur dan berdebu
lalu hilang ditiup angin
sebati menjadi tanah.
Bila rama-rama telah terbang
kepompong kehilangan dirinya
tiada daya untuk bergerak
dan hilanglah deria penglihatan
tak nampak lagi arah mana
rama-rama telah pergi
jadilah ia kaku dan kosong
seperti yang lain-lain
kembali ke tanah gersang.
Bila rama-rama telah terbang
mengertilah ia hakikat dirinya
sekadar bertandang di situ
berselimutkan kepompong itu
kelak kembalilah pada diri sendiri
menghidu haruman bunga-bunga di taman
kekadang mengapai awan dan langit tinggi
menyapa bulan dan bintang-bintang.
Yajuk
Bukit jering
15hb.jan.2008
• SAJAK
> 2008
> Bila rama-rama telah terbang disumbangkan
pada Khamis, 17 Januari 2008 7:07:42 PM • Kali terakhir diubah pada Khamis,
17 Januari 2008 7:07:42 PM oleh yajuk
2.Di Kamarku Ini
Di kamarku ini
nanar aku dan terkepong
bagai pelarian
ketakutan kehausan dan kesepian.
Di kamarku ini
bila berlabuhnya tirai malam
aku berkejaran di suatu pendakian
membina istana cintaku
abadi bersama-Mu Ilahi.
Di kamarku ini
kubuka jendela kaca itu
kutatap bintang-bintang di langit
kusapa wajah-wajah lesu
berbuak bicara kau siapa
sapa menyapa dirimu di mana
tiada diri tiadalah Ia.
Di kamarku ini
aku menyelongkar jalan kembali
yang ditinggalkan para anbia
wali-wali dan shalihin
tapi di persimpangan ini
di manakah akan kutemui ulama warisatul anbia
yang mati sebelum mati yang fana ul fana
yang hilang diri timbul diri yang kenal diri kenal Allah
dan yang baqa billah
yang ku kenal hanya ulama ul su'
yang menjual ayat-ayat Allah
untuk sesuap nasi atau segumpal kertas bernama wang
yang berbicara tentang syurga dan neraka
sedang di dasar hati berbisik kata
jangan maut datang menjemput
biar aku hidup seribu tahun lagi.
Di kamarku ini
aku bertafakkur menunggu hadirmu diri yang terperi
di lukhmahfuz mengucapkan
sesungguhnya aku menjadi saksi Kaulah Tuhanku
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Yajuk
Bukit Jering
28hb.Nov.2007
(Dari dairi 1985)
. SAJAK
> 2008
> Di kamarku ini disumbangkan
pada Rabu, 16 Januari 2008 6:54:06 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 16
Januari 2008 6:54:06 PM oleh yajuk
nanar aku dan terkepong
bagai pelarian
ketakutan kehausan dan kesepian.
Di kamarku ini
bila berlabuhnya tirai malam
aku berkejaran di suatu pendakian
membina istana cintaku
abadi bersama-Mu Ilahi.
Di kamarku ini
kubuka jendela kaca itu
kutatap bintang-bintang di langit
kusapa wajah-wajah lesu
berbuak bicara kau siapa
sapa menyapa dirimu di mana
tiada diri tiadalah Ia.
Di kamarku ini
aku menyelongkar jalan kembali
yang ditinggalkan para anbia
wali-wali dan shalihin
tapi di persimpangan ini
di manakah akan kutemui ulama warisatul anbia
yang mati sebelum mati yang fana ul fana
yang hilang diri timbul diri yang kenal diri kenal Allah
dan yang baqa billah
yang ku kenal hanya ulama ul su'
yang menjual ayat-ayat Allah
untuk sesuap nasi atau segumpal kertas bernama wang
yang berbicara tentang syurga dan neraka
sedang di dasar hati berbisik kata
jangan maut datang menjemput
biar aku hidup seribu tahun lagi.
Di kamarku ini
aku bertafakkur menunggu hadirmu diri yang terperi
di lukhmahfuz mengucapkan
sesungguhnya aku menjadi saksi Kaulah Tuhanku
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Yajuk
Bukit Jering
28hb.Nov.2007
(Dari dairi 1985)
. SAJAK
> 2008
> Di kamarku ini disumbangkan
pada Rabu, 16 Januari 2008 6:54:06 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 16
Januari 2008 6:54:06 PM oleh yajuk
Thursday, 23 February 2012
1.Kunyalakan Kandil
1. Kunyalakan Kandil
Kunyalakan kandil
buat menerangi kamarku ini
lalu kugantung potretmu,di tiap sudut hatiku
yang resah menunggu,sinar cahaya-Mu Rabbi
kau pun tersenyum,melihatku rebah tersungkur
menongkah arus,ombak dan gelombang
diriku yang tidak mengerti kewujudan diri yang hakiki
lalu kau holorkan tanganmu,memimpinku meniti titian ini
selurus siratalmustaqim.
Kunyalakan kandil
buat menatap potret-Mu
lalu aku pun rindu dan asyik,menyanyikan lagu penyair malam
melafazkan doa zikir dan tahmid
beristighfar dan bertafakkur menunggu,hadirmu bertahta dihatiku
sebagaimana kau telah bertahta,di tiap sudut hati para Nabi
kau hidup di hati para syuhada,para malaikat muqarrabin
kau pancarkan sinar cahaya-Mu yang syahdu,di lubuk hati para sufi
menambat kerinduan para wali
yang tidak akan berpaling lagi,dari menghadap-Mu Ilahi.
Kunyalakan kandil,di kamar hatiku ini
buat menyelongkar jalan kembali,ke taman firdausi.
Yajuk
Air panas
pengkalan hulu
22hb.dec.1986
• SAJAK
> 2008
> Ku nyalakan Kandil disumbangkan pada Selasa, 15 Januari 2008
9:29:35 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 15 Januari 2008 9:29:35 AM
oleh yajuk
Kunyalakan kandil
buat menerangi kamarku ini
lalu kugantung potretmu,di tiap sudut hatiku
yang resah menunggu,sinar cahaya-Mu Rabbi
kau pun tersenyum,melihatku rebah tersungkur
menongkah arus,ombak dan gelombang
diriku yang tidak mengerti kewujudan diri yang hakiki
lalu kau holorkan tanganmu,memimpinku meniti titian ini
selurus siratalmustaqim.
Kunyalakan kandil
buat menatap potret-Mu
lalu aku pun rindu dan asyik,menyanyikan lagu penyair malam
melafazkan doa zikir dan tahmid
beristighfar dan bertafakkur menunggu,hadirmu bertahta dihatiku
sebagaimana kau telah bertahta,di tiap sudut hati para Nabi
kau hidup di hati para syuhada,para malaikat muqarrabin
kau pancarkan sinar cahaya-Mu yang syahdu,di lubuk hati para sufi
menambat kerinduan para wali
yang tidak akan berpaling lagi,dari menghadap-Mu Ilahi.
Kunyalakan kandil,di kamar hatiku ini
buat menyelongkar jalan kembali,ke taman firdausi.
Yajuk
Air panas
pengkalan hulu
22hb.dec.1986
• SAJAK
> 2008
> Ku nyalakan Kandil disumbangkan pada Selasa, 15 Januari 2008
9:29:35 AM • Kali terakhir diubah pada Selasa, 15 Januari 2008 9:29:35 AM
oleh yajuk
Subscribe to:
Posts (Atom)