Di kamarku ini
nanar aku dan terkepong
bagai pelarian
ketakutan kehausan dan kesepian.
Di kamarku ini
bila berlabuhnya tirai malam
aku berkejaran di suatu pendakian
membina istana cintaku
abadi bersama-Mu Ilahi.
Di kamarku ini
kubuka jendela kaca itu
kutatap bintang-bintang di langit
kusapa wajah-wajah lesu
berbuak bicara kau siapa
sapa menyapa dirimu di mana
tiada diri tiadalah Ia.
Di kamarku ini
aku menyelongkar jalan kembali
yang ditinggalkan para anbia
wali-wali dan shalihin
tapi di persimpangan ini
di manakah akan kutemui ulama warisatul anbia
yang mati sebelum mati yang fana ul fana
yang hilang diri timbul diri yang kenal diri kenal Allah
dan yang baqa billah
yang ku kenal hanya ulama ul su'
yang menjual ayat-ayat Allah
untuk sesuap nasi atau segumpal kertas bernama wang
yang berbicara tentang syurga dan neraka
sedang di dasar hati berbisik kata
jangan maut datang menjemput
biar aku hidup seribu tahun lagi.
Di kamarku ini
aku bertafakkur menunggu hadirmu diri yang terperi
di lukhmahfuz mengucapkan
sesungguhnya aku menjadi saksi Kaulah Tuhanku
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Yajuk
Bukit Jering
28hb.Nov.2007
(Dari dairi 1985)
. SAJAK
> 2008
> Di kamarku ini disumbangkan
pada Rabu, 16 Januari 2008 6:54:06 PM • Kali terakhir diubah pada Rabu, 16
Januari 2008 6:54:06 PM oleh yajuk
No comments:
Post a Comment